Esensi Saham

Esensi Saham

Saham. Kali ini saya mencoba membahasnya dalam pandangan realist. Bukan dalam rangka trading atau mencari keuntungan dari “buy low, sell high” atau “buy high, sell higher”. Saya mencoba menelaah filosofi saham. Kenapa? Supaya tahu, mengerti dan angguk-angguk.

ASII
Saya ambil contoh ASTRA dengan kode ASII. Produsen dan Distributor mobil serta motor. Juga pemilik persewaan alat berat UNITED TRACTOR. Juga pemilik utama Astra Agro Lestari. Selain itu ada perusahaan lain yaitu ASTRA GRAPHIA yang menyewakan alat-alat kantor.

Nah, sama seperti Tanah atau Rumah yang anda beli. Atau emas yang anda beli. Semisal harga emas 1 gram adalah 500.000 rupiah. Anda semisal hanya mempunyai 250.000 saja, sehingga join dengan saya yang juga punya 250.000. Ketika emas naik menjadi 600.000 maka, kepemilikan masing-masing dari kita naik juga, menjadi 300.000. Demikian juga kalau turun. Padahal emasnya tetap 1 gram.

Atau ekstrim lagi dengan tanah. Ada tanah 100 juta seluas 100 m2. Kita berempat orang, masing-masing iuran 25 juta untuk membelinya. Nah, saat harga tanah turun menjadi 80 juta atau naik menjadi 120 juta maka nilai masing-masing juga meningkat atau menurun bukan? Tetapi tanahnya sendiri tetap. Ya 100 m2. Nah, saat harga tanah turun apakah anda panik dan menjualnya? Enggak kan. Anda tetap yakin dan memegang tanah kan. Saat harga tanah naik, anda juga belum tentu menjualnya. Intinya mau harga naik atau turun anda tetep tenang, karena memiliki aset berupa TANAH atau EMAS.

Lalu?
Kembali ke Astra. Anda tahu bahwa Astra punya pabrik, yang tentu saja berdiri diatas tanah. Astra memiliki mesin-mesin yang ada nilai jualnya. Astra memiliki nama besar yang terkenal. Kesemuanya, baik yang nampak dan tidak nampak (brand) adalah aset. Sama seperti Tanah dan Emas. Jika kepemilikan rumah ditandai dengan sertifikat hak milik, maka kepemilikan sebuah aset perusahaan ditandai dengan SAHAM.

Jika anda tenang memegang Tanah, dan Emas (sesama aset). Kenapa anda ragu memegang Saham. Sama-sama sertifikat atau tanda kepemilikan atas sebuah aset. Padahal Aset berupa perusahaan mempunyai satu keuntungan tambahan.

Laba
Tanah anda. 100 m2. Dari tahun ke tahun, hanya berubah nilai jualnya tidak bertambah ukurannya tetap 100 m2 ya kan? Tidak akan menghasilkan duit sebelum anda benar-benar menjualnya, kecuali disewakan. Emas demikian pula. Tidak akan menghasilkan duit sebelum anda benar-benar menjualnya.

Perusahaan mempunyai aset. Ada tanah, dan mesin, serta aset lainnya didalamnya. Yang tentu saja tahun ketahun juga naik turun nilainya sama seperti tanah dan emas. Bahkan ada kecencerungan perusahaan akan makin besar dan luas asetnya tahun ke tahun. Benar? Dan sama seperti tanah dan emas, akan memberi uang nyata ketika anda menjual kepemilikan anda.

Tetapi ada satu pembeda, yaitu LABA. Saat tanah diam atau emas diam, perusahaan bekerja, memproduksi sesuatu, menjual dan meraih laba. Ibarat kata, disaat anda diamkan pun, perusahaan mendapatkan atau menghasilkan uang. Berbeda dengan tanah diam dan emas yang tidak menghasilkan laba (kecuali dijual). Perusahaan setiap tahun selalu berusaha menaikkan dan mendapat laba.

Laba inilah hal tambahan yang anda dapatkan saat anda membeli saham dibanding tanah diam atau emas diam (lagipula belum ada emas sewaan). Nah, mulai menangkap maksud saya? Itulah kenapa ketika banyak orang menumpuk uang ke tanah dan emas (yang diam) saya cenderung memilih membeli kepemilikan atas suatu perusahaan atau saham. Toh perusahaan yang saya beli juga mempunyai tanah, bangunan dan pabrik. Bahkan jika sewaktu-waktu akan saya jual, saham lebih mudah laku (likuid) dibanding menjual tanah yang bisa setahun baru laku.

Kesimpulan
Keunggulan saham perusahaan dibanding membeli tanah diam atau properti diam atau emas yang selalu diam adalah
1. Sama-sama bukti kepemilikan atas aset sebuah perusahaan
2. Perusahaan juga memiliki tanah, plus mesin, plus brand atau merk.
3. Perusahaan mendapat laba dari kinerjanya
4. Kadang laba dibagi menjadi dividen atau disimpan untuk ekspansi

Kerugian
Namanya perusahaan dapat rugi. Nah, inilah tugas kita, sebagai investor. Kita pilih perusahaan yang risiko ruginya kecil. Yaitu mirip dengan manusia:
1. Hutang sedikit
2. Penjualan banyak
3. Laba meningkat tiap periode

ASTRA 5 tahun terakhir labanya selalu meningkat.

Emas, investasi atau spekulasi?

Emas, investasi atau spekulasi?

Sudah ditulis dengan sangat baik dari, link ini, saya kutip:

Suatu ketika, sepasang suami-istri memasuki sebuah toko emas. Setelah melihat-lihat beberapa model perhiasan di deretan etalase depan, sang suami kemudian tertarik untuk mengetahui harga logam mulia yang diproduksi dalam bentuk batangan dan koin. Ia dengan antusias mulai menanyakan harga per gram emas batangan tersebut. Sementara itu wajah sang istri terlihat agak masam karena ia ternyata lebih menginginkan seuntai kalung emas.

-lanjutkan->

Reksadana Sebagai Dana Abadi Anda

Reksadana Sebagai Dana Abadi Anda

Terinspirasi dari salah seorang kawan yang bertanya, investasi apa yang bisa saya lakukan dengan sisa uang bulanan saya? Dia bercerita untuk proteksi sudah mempunyai produk asuransi. Tetapi untuk investasi, dia masih bingung, kemana uang saya taruh? Ada gak investasi yang aman dan menguntungkan? Saya ditawari dan dikejar kejar untuk ikut unit link, tapi saya ga paham. Atau saya belikan emas saja?

-selengkapnya>