BBM, bahan bakar minyak. Bagaimanakah sebenarnya?

BBM, bahan bakar minyak. Bagaimanakah sebenarnya?

Hari-hari terakhir, premium langka, solar juga. Terkait dengan adanya pembatasan jatah BBM agar cukup hingga akhir tahun. Subsidi BBM yang dianggarkan, membengkak. Pro-Kontra pun bermunculan, ada yang setuju BBM naik, ada yang tidak setuju. Dan sepertinya akan seperti ini, sampai kapanpun. Sama seperti akan selalu ada miskin dan kaya.

Indonesia Kaya
Indonesia adalah negara kaya, telah lama dikumandangkan, seolah dengan statement Indonesia kaya, rakyatnya dipersilakan berleha-leha. Ilusi bahwa Indonesia kaya membuat kita tak sadar, Indonesia tak sekaya itu, kita harus bekerja keras agar produktif dan menjadi negara kaya. Jika yang dimaksud kaya adalah surplus, yaitu berlebihnya penghasilan dibanding pengeluaran, maka kita miskin.

BBM kita minus, kita bukan negara penghasil minyak
Kementrian ESDM menyatakan tiap hari kita minus 608.000 barrel untuk memenuhi kebutuhan rakyat (baik yang miskin maupun kaya, semuanya rakyat). Kapasitas kilang Indonesia 1,15 juta barrel perhari (bph), kebutuhan kita 1,25 juta bph. Produksi dalam negeri hanya 600.000 an sehari. Sehingga defisit 600.000 an perhari. Untuk membangun kilang membutuhkan 100 triliun, dan sebuah kilang mampu menghasilkan 300.000 bph. Sehingga dibutuhkan setidaknya dua kilang(1)

Untuk menutupi defisit ini, pemerintah impor dari luar negeri dengan harga dunia sekitar 12.000 perliter. Dan dijual dengan harga subsidi 6500 perliter. Sehingga subsidi BBM pertahun mencapai 200 triliun lebih. Pertengahan 2014 bahkan impor minyak meningkat menjadi 800.000 bph. Sehingga subsidi perhari mencapai 1,7 triliun. 100 hari kita jalani tanpa subsidi, satu kilang dibangun dapat kita danai. Kilang minyak dan produksi kita kurang, tapi kita berkoar negara kita kaya, ibarat kita berkata sawah kita luas, tapi kita masih impor beras. Ilusi. (2)

“”Masih banyak yang beranggapan Indonesia kaya dengan minyak bumi. Padahal tidak,” kata Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo

Jika BBM tidak naik
Dengan tidak naiknya BBM, maka negara kita akan merugi (defisit). Keuntungan kita jika BBM murah seperti sekarang maka kita akan menjadi negara (lumayan) makmur seperti saat ini. Harga-harga murah, mobil dimana-mana, kehidupan berjalan lancar, saya pun senang tetapi semuanya ilusi. Karena pada dasarnya kita hidup diatas hutang. Kenapa?

Anggaran Pengeluaran Belanja Negara (APBN) kita setiap tahun defisit 200 triliun. Pemasukan hanya 1800 triliun, pengeluaran mencapai 2000 triliun. Ibarat kata, negara kita “Besar Pasak daripada Tiang” APBN kita defisit 200-400 triliun setiap tahun. Dan pemerintah kita menutupi defisit dengan berhutang, baik ke dalam negeri melalui bermacam hal seperti ORI, SUKRI, ataupun keluar negeri. Dan tidak ada hutang tanpa bunga. Artinya kita hidup dalam kemakmuran yang berlandaskan hutang. Dan lebih sayang lagi jika hutang tersebut kita gunakan untuk hal konsumtif, habis sekali waktu tanpa imbal balik dimasa depan.(3)

Jika BBM naik
Jika BBM naik, perekonomian kita akan tersendat, banyak orang nyaris miskin akan menjadi miskin. Konsumerisme akan menurun, transaksi dan perdagangan lesu. Kebutuhan tersier akan menjadi yang pertama ditinggalkan. Mall akan sepi, jumlah dagangan akan turun. Semua mengencangkan ikat pinggang, melakukan kalibrasi dengan keadaan yang asli, bukan yang ilusi. Makro dan Mikro akan terguncang. Tinggal, yakinkah ditengah keadaan asli yang memang masih belum makmur akan mampu bangkit menjadi produktif kembali?

Closing
Bukan ditangan kita BBM naik atau tetap. Walau secara obyektif, tetap akan naik mengingat hutang yang makin besar dari tahun ketahun untuk menutupi defisit. Yang paling penting sikap kita, rakyat. Apa yang kita lakukan jika BBM naik ataupun tidak naik. Jika sedikit bermain-main dengan prediksi, Premium akan menjadi 8.000/liter. Kedepannya 10.000/liter. Lalu, akhirnya mengikuti harga dunia, atau dihapuskan. Semua menjadi pertamax.

Harapan terbesar saya bukan pemimpin, tetapi rakyat. Semoga makin banyak rakyat yang produktif. Mampu menghasilkan sesuatu untuk dijual dan laku. Baik untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri, syukur-syukur ekspor. Harapan kepada pemerintah hanyalah, permudahlah proses ini semisal Ijin dan birokrasi, niscaya rakyat mampu berdiri sendiri, kita punya banyak SDM (kuantitas), masalah kualitas hanyalah persoalan jam terbang. 10.000 jam melakukan sebuah hal akan membuat kita menjadi ahli. Jika anda suka memasak nasi goreng masaklah 10.000 jam, jika anda suka melukis lakukan juga 10.000 jam. Setelah expert, akan menjadi ahli sesuatu. Sesuatu yang anda hasilkan akan laku dijual, dalam maupun luar negeri. Hingga nanti, harga BBM naik atau turun tidak menjadi masalah lagi.

Sumber-Sumber:
1. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/03/24/0900598/Indonesia.Defisit.Minyak.Bumi.608.000.Barrel.Per.hari
2. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/17/0441253/.Butuh.Rp.1.7.T.per.Hari.untuk.Impor.BBM
3. http://m.bisnis.com/finansial/read/20140609/9/234542/defisit-apbn-2014-terancam-membengkak-jadi-469-atau-rp472-triliun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s