SIMP

SIMP

Salim Ivomas Pratama
Merupakan grup agribisnis yang bervisi menyaingi grup agribisnis lain di dunia. Dengan salah satu misi:
Menjadi produsen dengan biaya produksi rendah, melalui hasil produksi yang tinggi dan biaya operasional yang efektif efisien.

Terintegrasi, SIMP memiliki lini usaha yang lengkap, dari penanaman bibit s/d distribusi barang jadi. Grup SIMP juga merupakan salah satu pemimpin pasar minyak goreng, margarin dan shortening bermerek di Indonesia. Kegiatan usaha utama Grup SIMP mencakup mata rantai pasokan yang dimulai dari kegiatan penelitian dan pengembangan, pemuliaan benih bibit kelapa sawit hingga kegiatan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit, serta produksi dan pemasaran minyak goreng, margarin dan shortening bermerek. Sebagai grup agribisnis yang terdiversifikasi, Grup SIMP juga melakukan kegiatan usaha penanaman karet, tebu dan tanaman-tanaman lainnya serta penggilingan kopra.

Pemegang Saham
Saham SIMP dimiliki oleh Indofood secara langsung sebanyak 6,5%. Dimiliki oleh IndoAgri 72,6%. Dan dimiliki publik/masyarakat 20,9%. IndoAgri sendiri dimiliki Indofood 60,5%.

Ulasan
Pada tahun 2013, SIMP mengakuisisi sebesar 79,7% saham PT Mentari Pertiwi Makmur (MPM) yang memiliki PT Sumalindo Alam Lestari dan entitas anaknya PT Wana Kaltim Lestari (bersama-sama disebut Grup SAL), pemegang konsesi hutan tanaman industri seluas 73.330 hektar di Kalimantan Timur.

SIMP mencatat penjualan sebesar Rp13,28 triliun di tahun 2013, turun 4% dari Rp13,84 triliun di periode sebelumnya, yang disebabkan terutama oleh penurunan volume penjualan dan harga jual rata-rata minyak goreng curah. Laba tahun 2013 sebesar Rp 635,3 miliar, turun 58% dibandingkan periode sebelumnya karena penurunan laba usaha, penurunan pendapatan keuangan dan peningkatan biaya keuangan karena rugi selisih atas aktivitas pendanaan. Setelah memperhitungkan kepentingan nonpengendali, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 55% menjadi Rp 524,0 miliar.

Melihat kinerja penjualan dan laba saja, maka SIMP ini tidak menarik. Tetapi dengan melihat bahwa SIMP meningkatkan penanaman lahan sawit tiap tahun, serta memiliki pabrik baru yang siap menampung dan mengolah kenaikan produksi maka prospek SIMP mulai menggoda. Tapi, sebagai value investor, prospek adalah nomor 3 setelah kinerja dan valuasi. Strategi lain adalah mengakuisisi grup SAL yang bergerak dibidang komoditi jagung, kakao dan singkong.

Laporan Keuangan 2013
Aset SIMP mengalami kenaikan. Dengan dominasi pada aset tak lancar, karena penanaman baru, tanaman belum menghasilkan, investasi pada MPM dan Heliae serta pembiayaan belanja modal untuk perumahan dan infrastruktur di perkebunan dan juga ekspansi kapasitas pabrik. Liabilitas SIMP sebesar 11,96 Triliun. Sementara Ekuitas entitas induk 13,67 Triliun. Maknanya, perusahaan cukup sehat dan berani. Karena berkembang secara anorganik.

Sekilas ada kemiripan integrasi antara SIMP dengan WILMAR pemilik CEKA , keduanya juga bergerak dibidang yang sama, agribisnis dan terintegrasi. Hanya saja, laporan keuangan SIMP berasa lebih detail dan terbuka. Perusahaan juga membeli saham treasury, 74 juta lembar, diharga 720-an yang menunjukkan kepercayaan diri terhadap ekuitasnya.

Berita menarik (untuk saya) perusahaan membagikan deviden Rp 22 setiap lembar saham. Sebesar 30% dari laba usaha. Jika dibandingkan harga sekarang di 920, maka yieldnya sekitar 2%. Kecil, tetapi lumayan sebagai kontribusi perusahaan kepada pemegang saham. Setidaknya sebagai tanda baik dari manajemen.

Target 2014
Target perusahaan untuk tahun 2014 sendiri adalah pertumbuhan penjualan 1 digit, dengan asumsi harga sawit tetap di 7200 rupiah per Kg.

Sawit masih merupakan komoditi utama mencapai 87%, selain karet, jagung, kokoa dan tebu. Tanaman sawit mulai menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) setelah 4-6 tahun. 74% tanaman yang dimiliki SIMP telah menghasilkan, 26% belum (masih muda). Selain sawit, Gula sendiri merupakan penyumbang penjualan sebanyak 13% dari total penjualan. Merk yang dimiliki adalah IndoSugar.

Anak perusahaan SIMP:
1. LSIP (59% dimiliki SIMP)
2. Laju Perdana Indah (60% dimiliki SIMP)
3. PT Mega Citra Perdana (60% dimiliki SIMP)
4. PT Mentari Peritiwi Makmur (79% dimiliki SIMP)

SIMP sendiri juga perusahaan komoditi yang memiliki ciri khas pendapatan naik turun tergantung harga jual komoditas. Sehingga tidak stabil. Kunci dari perusahaan yang tidak bisa mengendalikan harga jual, adalah kita sebagai investor ritel masuk/membeli saham disaat harga murah valuasinya.

Maret 2014, penjualan meningkat 2% dibanding Maret 2013. Laba sendiri melonjak 100%, dimungkinkan karena saat ini terjadi peningkatan penjualan, biaya operasional menurun, serta dibarengi peningkatan pendapatan keuangan.

Kesimpulan
Daya tarik utama tentu saja, peluang untuk membalikkan keadaan. Dengan kondisi sawit yang harganya tertekan, SIMP mampu mencetak laba. Sepertinya, tidak ada alasan kecuali alam dan krisis global, untuk membuat performa SIMP menurun.

Harga SIMP di 920, sudah membuat PBV 1. Dan laba yang naik 100% membuat PER 15. Harga yang fair, untuk sebuah perusahaan dengan penjualan 13 triliun setahun. Dengan ekuitas yang juga “hanya” 13 Triliun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s