Dokter Atlet, Dokter Tim Olahraga, Seharusnya Dilarang?

Dokter Atlet, Dokter Tim Olahraga, Seharusnya Dilarang?

Pertengahan Juni 2009. Event tenis putri internasional di Manahan, Solo. Waktu itu saya menjadi dokter lapangan. Sepanjang pertandingan saya sama sekali tidak menikmati jalannya permainan. Padahal biasanya saya suka saja dengan tenis. Karena Seru. Mirip-mirip bulutangkis.

Tapi, kali ini saya tidak menikmati jalannya pertandingan.
Setiap saat saya hanya bisa berdoa, jangan ada yang cedera, jangan ada yang membutuhkan dokter. Sayangnya doa saya kurang manjur. Seorang pemain Jepang cedera. Terjatuh saat memukul. Duh, padahal ini tenis, yang jaranggg banget ada pemain cedera. Kok ya pas saya jaga, ada aja cederanya.

Wasit memanggil tim dokter, yaitu saya. Kemudian saya bersama tim paramedis saya menuju ke lapangan, ke pemain jepang tersebut. Dan, saya gak tau apa yang harus saya lakukan nanti. Bukan karena saya ga bisa berkomunikasi dengannya. Jika hanya pertolongan pasien, kita semua sudah tahu. Tapi, jika menentukan apakah pemain dapat terus bermain atau tidak? Well…. Dilematic… Beruntung saya bukan dokter pribadi seorang pemain, tekanannya pasti lebih besar.

Dengan bahasa inggris saya meraba-raba apa yang pemain jepang ini inginkan. Range of movement masih baik, tidak ada suara-suara aneh saat kaki digerakkan, tidak ada edema apapun. Visual Analogue Scale sekitar 1-2. Hingga akhirnya adegan berakhir dengan pijatan di paha pemain jepang. Kemudian dia melanjutkan pertandingan. Hingga akhir.

Bertahun-tahun saya memikirkan hal tersebut, tentang tekanan yang dimiliki pertandingan. Hingga hari ini menemukan artikel ilmiah dari Medscape. Bertanya hal yang sama, bahkan lebih tegas. Artikel ini berjudul:

“Tim Olahraga seharusnya dilarang memiliki dokter sendiri”

Saat seorang atlet cedera, seorang dokter team ditanyakan: apa pemain ini boleh melanjutkan pertandingan?
Padahal setelah terjadi benturan, perlu pemeriksaan lebih dari mata telanjang, untuk mengetahui apa yang terjadi didalamnya. Dengan perabaan, pemeriksaan oleh dokter akan dapat ditemukan cidera berat, tetapi untuk beberapa cidera tidak tampak walau telah dilihat dan diperiksa dokter team. Jika dalam pemeriksaan dokter menemukan hal mencurigakan akan diputuskan apakah atlet boleh lanjut bertanding atau tidak.

Ketika jawabannya tidak dapat diteruskan, karena perlu pemeriksaan tambahan, akan keluar hal-hal seperti:
“Kita harus menang”
“Kita diambang juara nih, masih bisa main kan!”
Atau
“Kalau dokter ga bisa bikin dia melanjutkan pertandingan, dokter kami pecat!”

Jadi pada kondisi demikian, mana yang lebih diutamakan sebenarnya, kesehatan pasien/atlet atau kemenangan?

Perubahan yang ditawarkan artikel ini, adalah melarang team olahraga memiliki dokter team pribadi dalam pertandingan. Karena situasi akan menghadapi dilema, dan tidak netral dalam menentukan kondisi atlet yang cidera.

Sehingga disarankan, dokter saat pertandingan olahraga harus dari LIGA, atau penyelenggara. Misal FIFA. Sehingga dia dapat netral seperti wasit. Jika bisa melanjutkan, lanjutkan. Jika tidak, berhentikan dari pertandingan. Objektif, semata-mata dari sudut pandang kesehatan. Tanpa mengaitkan prestasi saat ini, walaupun diambang kemenangan. Demi terjaminnya karir yang bersangkutan dimasa depan.

Kesuksesan atlet di lapangan nomer dua, setelah kesehatan nya.

Sumber:
http://www.medscape.com/viewarticle/827003?src=wnl_edit_tpal&uac=130106HN

20140625-103619.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s